Nilai- Nilai Pancasila dalam Ekspresi Visual Peserta Didik

Karina Cahyaningtyas (Universitas Negeri Malang)

Ekspresi visual adalah proses penyampaian perasaan, ide, gagasan, atau emosi batin manusia yang diwujudkan melalui media visual seperti seni rupa, desain, atau fotografi. Nilai-Nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam ekspresi visual agar tujuan pengenalan Nilai-Nilai Pancasila tidak selalu terpaku pada teori. Ekspresi visual sendiri melibatkan emosi, yaitu sebuah respon yang mutlak ketika manusia mengalami suatu kejadian. Selain emosi berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian, emosi juga bisa muncul dari hubungan tak terjalin, baik hubungan keluarga, sekolah, dan lain sebagainya. (Kuncoroputri, 2023) Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu memberikan ruang refleksi bagi peserta didik. Dalam hal ini, pendidikan seni melalui ekspresi visual dapat menjadi sarana yang efektif untuk membantu peserta didik memahami serta menghayati nilai-nilai Pancasila melalui proses kreatif dan pengalaman belajar yang bermakna.
Pendidikan seni dapat menjadi salah satu pendekatan alternatif yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik. Sesuai dengan sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, penerapan nilai ini sudah seharunya menjadi syarat mutlak bagi setiap umat beragama yang meyakini bahwa adanya Tuhan. Bagaimana mungkin seseorang beragama tidak taat kepada perintah Tuhannya, sedangkan dia sudah mempunyai keyakinan denga adanya Tuhan dan dapat dibuktikan dengan agama yang dia peluk, baik itu agama Islam, Hindu, Budha, Kristen katholik, Kristen Protestan maupun Konghuchu. Ditambah lagi dengan aturan dan ajaran agamanya masing-masing yang mengharukan seorang pemeluk agama untuk taat, patuh, menghormati dan memuliyakan Tuhannya. (Sudirman, 2021). Dalam ekspresi visual sila pertama dapat diambil contoh komposisi seperti simbol cahaya, tempat ibadah, dan keberagaman cara untuk berdoa pada tuhan. Contoh tersebut dapat di jadikan sebagai karya seni lukis atau fotografi yang memadukan beberapa foto indah berkaitan dengan komposisi tadi.
Ekspresi visual yang dihasilkan oleh peserta didik dapat menjadi cerminan dari pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Pancasila. Melalui karya seni, peserta didik memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan sosial yang berkaitan dengan kemanusiaan. Kali ini diambil dari contoh wayang beber pancasila.

Gambar 1. Adegan Kedua: Ratu Adil
(Sumber: Sumbo Tinarbuko, 2019)
Adegan sang Ratu Adil ini memancarkan makna konotasi yang berlipat ganda. Dari gambaran taferil sila kedua wayang beber Pancasila ini, mengingatkan akan hadirnya tiga jenjang kehidupan seperti yang ada di candi Brobudur. Yakni tingkatan Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Ketiga jenjang kehidupan itu harus dijalankan oleh siapa pun.Makna konotasi tahapan jenjang kehidupan semakin dikuatkan dengan hadirnya simbol timbangan dengan takaran beban yang seimbang antara bagian sebelah kiri dan kanan. Secara visual digambarkan dengan komposisi simetris. Membagi sama besar antara ruang di sebelah kanan dan kiri. Makna konotasi atas hadirnya simbol timbangan dapat dinterpretasikan sebagai bagian dari tugas dan kewajiban manusia untuk menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan ini selagi masih disebut sebagai manusia. Makna konotasi yang muncul dari pesan visual ini berupa representasi proses hidup dan kehidupan manusia dalam konteks patembayatan sosial. Sebuah upaya saling hormat menghormati saat menjalankan kehidupan sosial di ruang publik. Sebuah upaya menjalankan interaksi sosial sesama umat manusia dengan mengedepankan unsur kemanusiaan yang adil dan beradab. Selain itu juga berupaya menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan dengan seluruh makhluk hidup yang ada di jagat raya ini. Makna konotasi atas sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Adil yang ditorehkan di dalam taferil wayang beber Pancasila ini, menyampaikan pesan sosial bahwa diksi adil tidak dimaknai secara egois berdasar pendapat dan kesenangan diri pribadi. Tetapi diksi adil harus dimaknai dan diselaraskan dengan tata nilai dan adat istiadat setiap wilayah berdasarkan kondisi lingkungan sosial dan budaya yang sudah ada. (Tinarbuko, 2021)
Sila ketiga Pancasila, yaitu “Persatuan Indonesia,” mengandung nilai-nilai yang mendukung kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai persatuan ini merupakan wujud dari sifat kodrati manusia sebagai makhluk monodualis, yaitu makhluk yang memiliki sifat individu sekaligus sosial. Sebagai sebuah negara, Indonesia merupakan persekutuan hidup yang mencakup berbagai manusia dengan latar belakang yang beragam, seperti suku, agama, ras, golongan, dan kelompok. Oleh karena itu perbedaan adalah sesuatu yang kodrati bagi setiap individu dan menjadi ciri khas yang memperkaya keberadaan sebuah negara. Meskipun terdapat banyak perbedaan, semua elemen bangsa tetap bersatu dalam satu kesatuan, yaitu Indonesia (Astardinata, 2023). Ekspresi visual untuk Sila Ketiga merepresentasikan konsep manusia sebagai makhluk monodualis melalui penggambaran mosaik harmoni atau anyaman serat budaya, di mana ribuan elemen yang berbeda secara kodrati seperti warna kulit, pakaian adat, dan simbol keyakinan disusun sedemikian rupa hingga membentuk satu kesatuan figur atau siluet peta Indonesia yang utuh dan kokoh. Penggunaan garis-garis lengkung yang saling mengikat serta perpaduan warna-warni yang kontras namun seimbang melambangkan bahwa keberagaman suku, agama, dan ras bukanlah faktor pemecah, melainkan kekayaan estetika yang menyatu dalam satu ikatan persekutuan hidup yang dinamis.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berfalsafah Pancasila, oleh karena itu setiap nilai-nilai dalam sila-sila Pancasila harus diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana sila ke-4 Pancasila menyebutkan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Berarti, yang dikedepankan prinsip bermusyawarah untuk mufakat melalui wakil-wakilnya dan badan-badan perwakilandalam memperjuangkan mandat rakyat (Yusdiyanto, 2016). Ekspresi visual yang memicu pemikiran kreatif mengenai Sila Keempat diwujudkan melalui metafora surealis dari sebuah jembatan gantung yang rapuh namun kokoh, di mana struktur utamanya tidak terbuat dari baja, melainkan dari ribuan pita kertas berwarna yang bertuliskan harapan, aspirasi, dan mandat rakyat yang saling terjalin erat. Pita-pita ini dikepal dan diikat kuat oleh tangan-tangan samar para wakil rakyat yang berdiri di atas pilar jembatan, yang dengan penuh tanggung jawab menghubungkan dua tebing terjal yang melambangkan jurang perbedaan pendapat. Visualisasi ini menantang peserta didik untuk merenungkan siapa yang sebenarnya menopang jembatan tersebut kekuasaan para wakil atau justru kerapuhan harapan rakyat yang mereka pegang serta bagaimana “hikmat kebijaksanaan” diperlukan untuk menjaga agar ikatan-ikatan tersebut tidak terlepas dan jembatan mufakat tidak runtuh.

Gambar 2. Adegan Kelima: Guyub Samudra
(Sumber: Sumbo Tinarbuko, 2019)
Pembahasan Sila Kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Adegan Guyub Samudra Adegan ini membeberkan ikon kapal bahtera Nusantara yang mengarungi samudra kehidupan dunia. Setiap individu yang ada di kapal itu bersatu-padu demi menuju pelabuhan kebahagiaan yang mereka cita-citakan. Makna konotasi yang muncul atas adegan Guyub Samudra ini menyampaikan pesan gotong-royong. Pemerintah, pejabat penyelenggara negara dan warga masyarakat wajib mengedepankan sikap guyup rukun demi mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Tinarbuko, 2021). Selain dari wayang, ekspresi visual untuk Sila Kelima dapat diwujudkan melalui metafora “Timbangan Ekuilibrium di Atas Ladang Padi dan Kapas”, yang menggambarkan keseimbangan sempurna antara hak dan kewajiban serta pemerataan kesejahteraan bagi seluruh strata sosial. Visual ini menampilkan sebuah timbangan raksasa yang berdiri kokoh di tengah bentang alam Indonesia yang subur, di mana kedua piringannya memuat simbol kebutuhan dasar manusia seperti buku pendidikan, perangkat kesehatan, dan tumpukan hasil bumi yang berada dalam posisi sejajar tanpa berat sebelah. Penggunaan palet warna hijau zamrud dan kuning keemasan yang dominan tidak hanya merujuk pada simbol pangan dan sandang, tetapi juga memicu pemikiran kritis peserta didik mengenai makna keadilan yang substantif bahwa kemakmuran sejati hanya tercapai ketika akses terhadap keadilan hukum dan kesejahteraan sosial terdistribusi secara inklusif hingga ke pelosok negeri.
Perkembangan teknologi digital memberikan peluang baru dalam pendidikan seni. Generasi muda saat ini sangat akrab dengan berbagai bentuk visual digital yang mereka temui di media sosial, seperti ilustrasi digital, desain grafis, maupun konten kreatif lainnya. Kondisi ini dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran seni untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menyampaikan pesan sosial yang positif. Melalui pemanfaatan media digital, peserta didik dapat membuat berbagai karya visual seperti poster digital, ilustrasi, atau desain kampanye sosial yang mengangkat nilai-nilai Pancasila. Misalnya, mereka dapat membuat poster tentang pentingnya toleransi antaragama, ilustrasi tentang keberagaman budaya Indonesia, atau desain yang mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan. Peran guru sangat penting dalam mengarahkan proses pembelajaran seni agar tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada makna yang terkandung dalam karya yang dibuat oleh peserta didik. Guru perlu membimbing peserta didik untuk memahami bahwa karya seni dapat menjadi media untuk menyampaikan gagasan, nilai, serta pandangan terhadap kehidupan sosial. Melalui kegiatan seperti diskusi kelas, presentasi karya, maupun pameran hasil karya, peserta didik dapat belajar menjelaskan makna yang terdapat dalam karya mereka. Proses ini juga dapat mendorong peserta didik untuk saling menghargai pandangan orang lain serta mengembangkan sikap terbuka terhadap perbedaan.
Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Nilai-Nilai pancasila sudah memiliki visual dan makna masing-masing. Tetapi dalam upaya pembelajaran yang lebih komunikatif dan menyalurkan ekspresi peserta didik, maka ekspresi visual dapat ditambahkan dalam mengenalkan nilai-nilai pancasila agar peserta didik tidak bosan dengan metode ceramah, diskusi, atau hafalan yang biasanya dilakukan untuk menjelaskan pembelajaran yang berkaitan dengan pancasila. Selain itu pendidikan seni perlu dikembangkan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan reflektif agar peserta didik mampu menghubungkan proses kreatif mereka dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, seni dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk generasi muda yang kreatif, kritis, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat di tengah berbagai tantangan era modern.

References
Astardinata, A. I. (2023). Implementasi makna nilai Pancasila sila ke-3. Indigenous Knowledge, 2(5), 375-380.
Kuncoroputri, S. A. (2023). Ekspresi Visual Human Emotion Dalam Karya Seni Lukis. . Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9(3), 1511-1518.
Sudirman, J. &. (2021). Penerapan nilai nilai pancasila sila pertama terhadap kehidupan beragama. . Universitas Pertahanan RI.
Tinarbuko, S. &. (2021). Interpretasi Visual Sila Kedua dan Kelima Wayang Beber Pancasila. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(2), 140-145.
Yusdiyanto, Y. (2016). Makna filosofis nilai-nilai sila ke-empat Pancasila dalam sistem demokrasi di Indonesia. FIAT JUSTISIA: Jurnal Ilmu Hukum, 10(2).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *