Kehadiran Portugis di Laut Sawu dan Pulau Timor

Muhammad Ammar Ghazy Elwino (Universitas Negeri Malang)

Setelah berhasil menaklukkan Bandar Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis mulai memperluas jaringan pelayaran dan perdagangan mereka di kawasan Asia Tenggara. Penaklukan Malaka membuka jalan bagi Portugis untuk menguasai jalur perdagangan penting yang menghubungkan dunia Barat dengan wilayah penghasil rempah-rempah di Nusantara. Dari pelabuhan Malaka, kapal-kapal dagang Portugis berlayar menuju Kepulauan Maluku dan Banda dengan tujuan utama mencari dan membeli rempah-rempah seperti pala dan cengkih yang sangat bernilai tinggi di pasar internasional.
Dalam perjalanan menuju pusat-pusat rempah tersebut, sebagian kapal Portugis kadang bergerak lebih jauh ke arah selatan ketika melintasi Laut Flores atau Laut Banda. Perubahan arah pelayaran ini sering terjadi karena kondisi angin, arus laut, maupun keinginan para pedagang untuk menjelajahi wilayah baru yang berpotensi menjadi sumber komoditas perdagangan. Dalam salah satu pelayaran tersebut, pada tahun 1512, kapal-kapal Portugis singgah di sebuah pulau yang dikenal menghasilkan kayu cendana putih berkualitas tinggi, yaitu Pulau Timor.
Kedatangan Portugis di Timor menjadi salah satu catatan awal hubungan antara bangsa Eropa dengan masyarakat di wilayah tersebut. Dalam laporan perjalanan mereka, Portugis mencatat bahwa Pulau Timor terbagi ke dalam dua kelompok kerajaan besar. Di bagian barat terdapat sekitar enam belas kerajaan yang oleh Portugis disebut sebagai kelompok Servião. Sementara itu, di bagian timur terdapat sekitar lima puluh kerajaan yang termasuk dalam kelompok Belos. Pembagian ini menunjukkan bahwa wilayah Timor pada masa itu terdiri dari banyak kerajaan kecil yang memiliki kekuasaan masing-masing, namun tetap berada dalam jaringan hubungan politik dan perdagangan yang luas.
Daya tarik utama Pulau Timor bagi para pedagang asing adalah kayu cendana. Kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena digunakan sebagai bahan pembuatan parfum, dupa, obat-obatan, serta berbagai produk mewah lainnya. Di pasar Asia, khususnya di Tiongkok, kayu cendana sangat diminati sehingga permintaannya terus meningkat. Catatan perdagangan pada masa itu menunjukkan bahwa perdagangan kayu cendana dari Timor dapat mencapai sekitar 1.000 bahar atau setara dengan 5.000 pikul. Jika satu pikul setara dengan sekitar 62,5 kilogram, maka jumlah tersebut menunjukkan volume perdagangan yang sangat besar. Sebagian besar perdagangan ini dilakukan oleh pedagang dari Gujarat yang telah lama menjalin hubungan dagang dengan kawasan Nusantara.
Melihat besarnya potensi perdagangan tersebut, kapal-kapal dagang Portugis mulai secara rutin mengunjungi Pulau Timor sejak sekitar tahun 1515. Para pedagang Portugis datang untuk membeli kayu cendana yang kemudian dijual kembali ke berbagai pasar di Asia maupun Eropa. Pada awalnya, masyarakat Timor menyambut kedatangan para pedagang asing dengan antusias. Pertukaran barang antara penduduk lokal dengan pedagang luar menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Namun dalam perkembangannya, Portugis tidak sepenuhnya berhasil menguasai perdagangan kayu cendana di Timor. Komoditas ini sudah lebih dahulu dikuasai oleh jaringan pedagang Cina yang telah lama berdagang di kawasan tersebut. Selain itu, para raja lokal di Timor juga memiliki peran penting dalam mengendalikan perdagangan cendana. Mereka tidak memberikan izin kepada pedagang Portugis untuk mendirikan pemukiman tetap di wilayah mereka. Para pedagang asing hanya diperbolehkan berlabuh sementara di pelabuhan-pelabuhan Timor untuk menukarkan barang yang mereka bawa dengan kayu cendana.
Kesulitan untuk mendapatkan tempat berpijak secara permanen di Timor mendorong Portugis mencari wilayah lain yang dapat dijadikan sebagai basis perdagangan dan aktivitas mereka. Oleh karena itu, mereka mulai membangun basis di Pulau Flores yang letaknya tidak terlalu jauh dari Timor. Di pulau ini, Portugis mendirikan dua pemukiman di wilayah pesisir. Pemukiman pertama dibangun di Teluk Ende. Di tempat ini Portugis mendirikan sebuah benteng sebagai sarana pertahanan sekaligus pusat aktivitas perdagangan. Pemukiman kedua didirikan di Larantuka. Wilayah Larantuka dikenal memiliki kondisi alam yang indah dan tanah yang subur. Tanaman jagung yang ditanam oleh penduduk Portugis dapat tumbuh dengan baik di daerah ini. Selain itu, Larantuka juga memiliki pelabuhan alami yang baik karena relatif terlindung dari gelombang laut yang besar, sehingga sangat cocok dijadikan tempat berlabuh kapal-kapal dagang.
Selain Larantuka, Pelabuhan Solor juga telah dikenal oleh para pelaut Portugis sejak sekitar tahun 1515. Pulau Solor kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan Portugis di kawasan tersebut. Pada tahun 1556, sekelompok biarawan dari Ordo Dominikan mendirikan sebuah desa bernama Lifau dan membangun gereja Katolik di sana. Kehadiran para misionaris ini tidak hanya bertujuan untuk menyebarkan agama, tetapi juga memperkuat pengaruh Portugis di wilayah tersebut. Untuk menjaga keamanan dari berbagai ancaman, para biarawan Dominikan kemudian membangun sebuah benteng di Solor. Dalam perkembangannya, perdagangan kayu cendana di pulau ini banyak dikendalikan oleh para misionaris Dominikan. Hal ini terjadi karena pengawasan langsung dari pemerintah Portugis di wilayah tersebut relatif terbatas. Para misionaris sering kali merangkap peran sebagai pengelola perdagangan sekaligus pemimpin komunitas Portugis setempat.
Catatan mengenai aktivitas Portugis di kawasan ini juga muncul dalam laporan para tokoh gereja. Pada tahun 1559, seorang pendeta Jesuit bernama Balthasar Dias melaporkan bahwa terdapat sekitar dua ratus pedagang dan pelaut Portugis yang singgah dan beristirahat di wilayah tersebut. Mereka menunggu cuaca membaik dan menghindari badai laut yang ganas sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Kehadiran Portugis di Laut Sawu, Pulau Timor, Flores, dan Solor menunjukkan bagaimana jalur perdagangan maritim di Nusantara pada abad ke-16 menjadi ruang pertemuan berbagai bangsa, kepentingan ekonomi, serta misi keagamaan. Meskipun Portugis tidak sepenuhnya menguasai perdagangan kayu cendana di Timor, kehadiran mereka tetap memberikan pengaruh penting terhadap dinamika politik, ekonomi, dan budaya di kawasan tersebut.

Referensi
Pradjoko, D- Perebutan Pulau dan Laut : Portugis,Belanda dan Kekuatan Pribumi di Laut Sawu Abad XVII-XIX – Konferensi Nasional Sejarah VIII, 2006 – academia.edu
S Agung Sri Raharjo, Agus Pramusinto, dan Ris Hadi Purwanto. Sejarah Dominasi Negara Dalam Pengelolaan Cendana Di Nusa Tenggara Timur (History of State Domination on Cendana Management in Nusa Tenggara Timur) – Journal of People and Environment 20 (1), 1-10, 2013 – academia.edu
Boxer, CR “Timor Portugis: Kisah Pulau yang Penuh Tantangan, 1515–1960.” History Today (Mei 1960) hlm. 349–355.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *