Dari Jayakarta ke Batavia: Dampak Ekologis Pendudukan VOC di Batavia

Zackyla M Santos (Universitas Negeri Malang)

Tepat pada hari tahun baru 2020 masyarakat Jakarta terbangun dalam sebuah mimpi buruk. BMKG mencatat curah hujan ekstrem yang mengguyur ibu kota pada saat itu tercatat sebagai yang terekstrem dan terparah dari 154 tahun yang lalu. Fenomena ini menjadi bukti kerentanan Jakarta yang telah terbentuk sejak lama. Krisis air di Jakarta memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bermula sejak dimulainya proyek pembangunan kota oleh VOC di muara Sungai Ciliwung pada abad ke-17 (Caljouw, Nas, dan Pratiwo, 2005). Banyak masyarakat yang menganggap banjir di Jakarta sebagai kegagalan infrastruktur saat masa ini, tanpa menyadari adanya pemaksaan desain antara kota Amsterdam dan Batavia. Masalah utamanya terdapat pada ketidakcocokan antara visi pembangunan kolonial dengan keadaan sebenarnya Batavia pada saat itu yang beriklim tropis. Setelah menaklukan Jayakarta pada 1619, VOC secara bertahap membangun Batavia dengan meniru lay-out kota di Eropa. Karakteristik yang menonjol adalah upaya para penguasa kolonial untuk mengadopsi tata ruang Amsterdam abad pertengahan, di mana kota dirancang kaku dengan tembok pertahanan dan jaringan kanal (Novita dan Mahmud, 1999). Pemaksaan model kota Amsterdam yang beriklim sedang dibawa ke lahan rawa tropis, hal ini memicu kerusakan lingkungan yang dampaknya masih terasa oleh Jakarta hingga saat ini.
Alih-alih mencoba untuk menyesuaikan dengan ekosistem lokal, Jan Pieterszoon Coen malah memilih meratakan Jayakarta pada tahun 1619. Langkah yang sangat ambisius ini adalah awal dari hancurnya alam di muara Sungai Ciliwung. Sebelum Belanda datang, wilayah ini aslinya adalah delta sungai liar yang isinya hanya hutan bakau dan rawa-rawa yang berfungsi sebagai resapan air. Tapi, VOC justru ingin menjinakan alam itu dengan membangun Batavia yang meniru model kota kota di Eropa. Jika melihat catatan Mulyanto (2022), penghancuran total Jayakarta ini sengaja dilakukan agar pembangunan kotanya tidak terganggu dengan struktur bangunan lokal.
Pembangunan kota baru ini pun pelan-pelan diubah menjadi replika Amsterdam abad pertengahan, lengkap dengan tembok tinggi dan kanal-kanal yang posisinya simetris. Penguasa VOC seperti menutup mata dengan kondisi lapangan dan tetap memaksa konsep kota air (water city) dengan membangun Kasteel Batavia yang dikelilingi tembok tebal sebagai pusat pertahanan mereka. Novita dan Mahmud (1999) menjelaskan jika kanal-kanal seperti Grootegracht atau yang sekarang kita kenal sebagai Kali Besar, awalnya memang dirancang simetris sebagai jalur logistik dan benteng pertahanan agar aman dari serangan. Tapi, dibalik megahnya arsitektur itu, ada kesalahan fatal, yaitu mereka merusak aliran alami sungai hanya demi estetika semata
Masalah mulai muncul ketika kanal-kanal yang tadinya dianggap sebagai simbol kemajuan malah menjadi bumerang untuk VOC sendiri. Di negara asalnya yang arus sungai nya kuat, kanal bisa bersih sendiri, tapi di Batavia yang tanahnya landai dan airnya sulit mengalir. Dampak ekologis yang paling nyata adalah terjadinya sedimentasi atau pendangkalan massal. Euis Puspita Dewi mencatat jika pada pertengahan abad ke-18, kanal yang awalnya menjadi kebanggaan ini berubah menjadi tempat yang kotor dan bau. Sampah rumah tangga sampai kotoran manusia menumpuk menjadi satu di sana. Alih alih menjadi solusi untuk tranportasi, kanal-kanal ini justru merubah menjadi saluran pembuangan yang membuat lingkungan kota tidak sehat
Hilangnya area rawa dan hutan bakau akibat pembangunan benteng juga membuat Batavia kehilangan daerah resapan alami terhadap banjir. Menurut Caljouw, Nas, dan Pratiwo (2005), pemaksaan model kota air ini gagal total karena VOC tidak memperhitungkan bahwa di iklim tropis, curah hujan tinggi akan membawa volume air dan lumpur yang sangat besar. Karena tanah sudah ditutupi bangunan dan tembok, air tidak bisa lagi meresap ke dalam tanah (hilangnya daya serap). Akibatnya, lingkungan kota jadi sangat tidak sehat, angka kematian melonjak, sampai akhirnya mereka terpaksa meninggalkan kota bawah dan pindah ke area yang lebih tinggi di Weltevreden demi menghindari bau dan wabah penyakit seperti malaria yang sebenarnya bersumber dari kerusakan ekologi yang mereka buat sendiri.
Kalau ditarik garis besarnya, krisis lingkungan dan masalah banjir yang terus-menerus menghantui Jakarta hari ini sebenarnya bukan hanya karena faktor alam, tapi hasil dari kesalahan tata ruang yang dilakukan VOC ratusan tahun lalu. Semuanya bermula dari ambisi Jan Pieterszoon Coen yang memaksakan visi “kota air” Amsterdam di atas lahan rawa tropis yang karakter alamnya sangat berbeda. Dengan meratakan Jayakarta dan menggantinya dengan kanal-kanal kaku, VOC secara tidak sadar sudah merusak sistem drainase alami muara Ciliwung. Kerusakan ekologis seperti sedimentasi parah dan air yang sulit untuk mengalir membuat infrastruktur mereka gagal total, dan memicu krisis kesehatan yang memaksa mereka meninggalkan kota bawah. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bahwa membangun kota dengan melawan hukum alam hanya akan meninggalkan “bom waktu” ekologis yang dampaknya masih harus ditanggung masyarakat Jakarta sampai sekarang.

Daftar Pustaka
Caljouw, M., Nas, P. J., & Pratiwo. (2005). Flooding in Jakarta: Towards a blue city with improved water management. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
Dewi, E. P. (2021). “Bersih dan Kotor” pada Kanal Batavia dan Ruang Kolonial (Abad XVII-XVIII). Jurnal Sejarah.
Mulyanto, H. (2022). Perkembangan Kanal Oud Batavia Abad XVII-XX: Tinjauan Sejarah Perkotaan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan.
Novita, D., & Mahmud, M. I. (1999). Tata Ruang Etnis Dan Profesi Dalam Kota Batavia (Abad XVII – XVIII). Berkala Arkeologi.
Nas, P. J., & Pratiwo. (2002). Jakarta and Java: Past, Present and Future. Journal of Southeast Asian Architecture.
All that’s Interesting. (2019, 13 Maret). Inside Batavia, The Indonesian City Brutally Colonized By The Dutch, Diakses dari https://allthatsinteresting.com/batavia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *