Asa Jagad Lentera, Marcellino Yosef Imanuel, Timothy Frederico Sihombing
(Universitas Brawijaya)
Pendahuluan
Kabupaten Kediri, adalah kabupaten yang memiliki ratusan sumber mata air di setiap wilayahnya. Salah satu sumber mata air yang menjadi objek material kami yakni “Sendang Tirto Kamandanu” yang terletak di Desa Pagu, Kecamatan Menang, Kabupaten Kediri. Sendang ini merupakan sumber mata air alami yang dimana menurut masyarakat sekitar memiliki nilai historis, religious, dan budaya tinggi bagi masyarakat setempat. Tempat ini juga dipercaya sebagai lokasi bersejarah dan peninggalan masa Kerajaan Kediri dan sering dikaitkan dengan tokoh raja yaitu Raden Sri Aji Jayabaya (Febrianti, 2024). Selain sendang ini berfungsi sebagai situs religi, Sendang Tirto Kamandanu juga menjadi sebuah simbol pelestarian budaya lokal serta tempat upacara seperti ritual pembersihan diri.
Sementara dari objek material penelitian kami mengenai Sendang Tirto Kamandanu ini difokuskan pada nilai-nilai spiritual dan religious yang terkandung dalam aktivitas dan kepercayaan masyarakat sekitar. Lebih tepatnya, penelitian ini diarahkan bagaimana masyarakat memaknai keberadaan sendang ini sebagai warisan budaya dan tempat bersejarah yang masih dan harus dilestarikan hingga saat ini. Penelitian kami juga menelaah beberapa masyarakat serta pengunjung sendang yang berasal dari luar daerah, diantaranya seperti bentuk pelestarian tradisi, praktik keagamaan, serta interaksi sosial yang terjadi antara pengunjung, pengelola, dan masyarakat setempat. Penelitian ini termasuk kedalam kajian sastra lisan, yakni tulisan ataupun cerita pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun temurun dari mulut ke mulut melalui cerita, mitos, legenda, ataupun tuturan masyarakat (Dwipayana, 2023).
Metode Penelitian
Pada mini riset dan penelitian ini kelompok kami menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data : studi literatur dan wawancara langsung kepada tokoh-tokoh tertentu yang berada di Sendang Tirto Kamandanu, Kabupaten Kediri. Melalui studi literatur kelompok kami menggunakan beberapa jurnal ilmiah melalui platform Google Scholar dan beberapa kata kunci yakni mencakup “mitos, motif pengunjung, wisata kediri, tradisi, kebudayaan, dan tempat bersejarah” Dua metode penelitian ini kami pilih, karena adanya pertimbangan yang dimana kelompok kami ingin mendapatkan informasi lengkap, lebih dekat, dan mendengarkan langsung cerita dari tokoh-tokoh yang berpengalaman dan terlibat dengan keberadaan sendang ini.
Untuk mendapatkan data yang lebih lengkap, kelompok kami melakukan wawancara dengan berbagai narasumber yang ada. Narasumber yang kami pilih diantaranya ada juru kunci Sendang Tirto Kamandanu (Bapak Tugino), warga yang mengelola Sendang Tirto Kamandanu (Bapak Heri Sutopo), serta salah satu pengunjung yang pernah melakukan berdoa atau ritual tertentu (Ibu Pat). Wawancara ini kami struktur dengan cara menyiapkan beberapa daftar pertanyaan terkait Sendang Tirto Kamandanu, namun tetap memberi ruang bagi para narasumber untuk menjelaskan lebih luas lagi sesuai dengan pengalaman mereka. Selain wawancara, kelompok kami juga melakukan observasi turun lapangan di sekitar sendang dengan tujuan untuk melihat aktivitas dan kegiatan di sekitar sendang. Kemudian dari seluruh data yang sudah kami peroleh melalui wawancara, kami melakukan analisis sederhana dengan cara mengelompokan informasi berdasarkan sejarah Sendang Tirto Kamandanu, makna spiritual, dan pengalaman dari pengunjung yang pernah berdoa dan melakukan ritual tertentu di sendang.
Pembahasan
Berdasarkan jurnal dan studi literatur yang kami dapat, kami mendapatkan kajian materi terkait Sendang Tirto Kamandanu. Dimana Sendang Tirto Kamandanu adalah tempat yang memiliki sumber mata air yang sangat suci dan spiritual. Dilihat dari sejarahnya Sendang Tirto Kamandanu ini merupakan tempat mandi dan menyucikan diri Raja Sri Aji Jayabaya sebelum melakukan pertapaan dan moksa (Astuti, 2022). Untuk mengkaji lebih dalam, kelompok kami langsung melakukan observasi lapangan dan wawancara kepada tokoh-tokoh yang berada di sekitar sendang. Hasil dari beberapa narasumber yang kami wawancarai, Sendang Tirto Kamandanu ini sudah dikenal dan diyakini sejak lama sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Informasi mengenai keberadaan sendang ini sudah banyak ditemukan dalam bentuk cerita turun temurun atau dari generasi ke generasi hingga sekarang, meskipun juga ada beberapa sumber yang tertulis. Dari penuturan juru kunci dan penjaga setempat, Sendang Tirto Kamandanu sudah digunakan jauh sebelum 1960 (Tugino, 2025). Pada tahun 1986, kawasan sendang mengalami pemugaran dan dikelola oleh Yayasan Hondo Dento Yogyakarta dan tokoh adat Mbah Pleret. Pemugaran tersebut membuat sendang ini lebih terkelola dan dikenal banyak orang sebagai tempat spiritual (Tugino, 2025).
Salah satu mitos yang paling kuat yaitu keyakinan bahwa air sendang dapat memberikan kesuksesan hidup, penyembuhan, dan ketenangan batin (Heri S dan Tugino, 2025). Banyak pengunjung yang berasal dari luar kota hingga luar negara untuk melakukan ritual seperti mandi, minum air, hingga membawanya pulang (Tugino, 2025). Tugino juga menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang datang dan mandi di sendang merupakan para pejabat ataupun calon-calon anggota dewan (DPRD Kota atau Kabupaten) baik dari Kediri maupun luar daerah yang akan mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan Pemilihan Umum (Pemilu). Tidak hanya para pejabat saja, tetapi juga masyarakat umum datang ke sendang dengan tujuan mencari penyembuhan dan ketenangan batin. Menurut penjelasan Tugino, air sendang dipercaya memiliki energi kuat dan energi halus yang mampu menenangkan hati dan membantu meredakan beban pikirannya. Ibu Pat selaku pengunjung rutin Sendang Tirto Kamandanu menyampaikan juga bahwa dirinya setelah melakukan ritual mandi ataupun sekadar duduk bermeditasi di sekitar sendang mengaku merasa lebih ringan, lebih jernih dalam berpikir, dan lebih siap menghadapi masalah kehidupannya. Kesaksian serta keyakinan mengenai hal inilah sudah berakar dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun temurun sampai saat ini, sehingga tradisi lisan ini tetap menjadi elemen penting dalam menjaga keberlangsungan mitos ataupun kepercayaan masyarakat terhadap sendang. Meskipun terdapat beberapa sumber tertulis, namun sebagian besar cerita tentang sendang bertahan melalui tuturan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga membuat sejarah sendang tetap terasa hidup sampai sekarang.
Dari pembahasan sebelumnya, kelompok kami menjelaskan tentang sisi ontologis Sendang Tirto Kamandanu yang bermuara dari segi kepercayaan masyarakat yang datang. Tetapi disisi lain ada yang lebih penting untuk kita kaji lebih luas, agar penelitian ini tidak hanya membahas tentang hal yang belum terbukti ke masyarakat. Sisi lain yang dikaji adalah epistimologis yang menjelaskan mengapa sumber mata air atau tempat pemandian di Sendang Tirto Kamandanu dapat dibuat mandi pada hari hari tertentu saja dan tidak dapat digunakan mandi setiap hari? Karena dalam pengertian epistimologisnya air pasti akan cepat keruh dan kotor jika sumber mata air dan tempat pemandian sendang dipakai setiap waktu, serta hal tersebut akan menyebabkan munculnya berbagai penyakit, seperti : penyakit kulit, sarang nyamuk, dan lain sebagainya.
Selain memiliki nilai spiritual dan historis, sendang ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Seperti dari aspek ekonomi, kehadiran pengunjung membuka peluang usaha seperti warung, parkir, hingga toko kecil yang menunjang perekonomian desa. Dari aspek budaya adanya kegiatan seperti ritual satu suro, selamatan sebelum menikah, hingga ritual penyucian diri. Dari aspek sosial yaitu adanya interaksi antara masyarakat lokal, pengelola, dan pengunjung yang dapat memperkuat hubungan sosial.
Kesimpulan
Dari penelitian melalui sastar lisan, menunjukan bahwa Sendang Tirto Kamandanu memiliki makna yang kuat bagi masyarakat setempat, tidak hanya sebagai sumber mata air, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan budaya. Kisah mengenai Raden Jayabaya, pemugaran serta perubahan nama sendang, serta mitos khasiat airnya bertahan melalui tradisi lisan dan diwariskan sampai sekarang. Serta keyakinan masyarakat terhadap kesucian dan manfaat air sendang menjadikan tempat ini sebagai tempat spiritual yang hidup sampai saat ini.
Selain itu, sendang ini memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Mulai dari kehadiran pengunjung membuka peluang usaha dan memperkuat interaksi sosial antara warga dan pendatang. Dengan demikian perpaduan nilai sejarah, spiritual, dan manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat, membuat sendang ini menjadi warisan budaya yang penting dan harus tetap dijaga kelestariannya.
Daftar Rujukan
Sumber Literatur
Astuti, I. I. (2022). Nilai-nilai dan makna simbolik upacara kirab 1 syura di loka muksa sri aji joyoboyo. ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya. 79-90.
Dwipayana, I. K. (2023). Humanisasi Melalui Pembelajaran Sastra Lisan dalam Perspektif Tri Hita Karana: Kajian Etnopedagogik. Pedalitra: Prosiding Pedagogi, Linguistik, dan Sastra. 3 (1), 229-237.
Febrianti, K. A. (2024). Motif Pengunjung Sendang Tirto Kamandanu Kediri dalam Perspektif Pilgrimage Tourism. Atlasia Jurnal Pariwisata Indonesia.
Sumber Wawancara
- Bapak Tugino (Juru Kunci Sendang) : Gazebo Sendang Tirto Kamandan, Sabtu, 15 November 2025 (10.45)
- Bapak Heri Sutopo (Masyarakat Setempat) : Warung sederhana Sendang Tirto Kamandanu, Sabtu, 15 November 2025 (11.01)
- Ibu Pat (Pengunjung Sendang) : Rumah Kediaman Ibu Pat, Minggu, 16 November 2025 (12.45)