Oleh: Ni Putu Della Sri Mayanthi (Universitas Brawijaya)

Pendahuluan
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi ruang baru yang membentuk cara generasi muda memandang budaya. Di antara berbagai tren yang memenuhi media sosial, muncul fenomena menarik ketika anak muda mulai mengenakan batik ke kampus, memakai kebaya saat menghadiri konser, hingga memadukan kain tradisional dengan gaya berpakaian modern dalam kehidupan sehari-hari. Konten bertema berkain dan berkebaya kini mudah ditemukan di TikTok, Instagram, maupun X, mulai dari tutorial styling hingga edukasi singkat mengenai filosofi motif budaya. Bahkan, tren kebaya modern yang viral di TikTok menunjukkan tingginya antusiasme generasi muda terhadap budaya lokal. Salah satu konten mengenai kebaya encim dengan sentuhan modern berhasil memperoleh ratusan ribu penonton dan mendapat banyak respons positif dari warganet. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya Indonesia tidak benar-benar ditinggalkan oleh generasi muda, melainkan sedang menemukan bentuk baru agar tetap hidup dan relevan di era digital. Tradisi yang dahulu dianggap kuno kini hadir lebih dekat dan mengikuti perkembangan zaman. Di sinilah teknologi dan budaya bertemu, algoritma media sosial membantu budaya lokal kembali hadir di tengah kehidupan generasi muda dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima. Suatu penelitian mengenai kampanye kebaya di media sosial juga menunjukkan bahwa mayoritas responden menjadi lebih tertarik menggunakan kebaya dan kain tradisional setelah melihat konten digital bertema budaya (Nasrullah, 2017).
Pembahasan
Fenomena berkain dan berkebaya di media sosial menunjukkan bahwa budaya tidak selalu harus dipertahankan melalui pendekatan formal atau seremonial. Justru melalui kreativitas generasi muda, budaya dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Banyak anak muda mulai menjadikan kain tradisional sebagai bagian dari ekspresi diri dan gaya hidup sehari-hari. Kebaya yang dahulu dianggap terlalu formal kini dimodifikasi menjadi lebih modern tanpa menghilangkan ciri khasnya, sementara batik mulai dipadukan dengan outfit kasual yang lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Media sosial turut berperan besar karena menciptakan ruang yang memungkinkan budaya lokal dikenal dan diapresiasi lebih luas. Konten sederhana seperti video transisi pakaian adat atau tutorial mix and match kebaya ternyata mampu menarik perhatian masyarakat lintas generasi. Dalam kondisi ini, algoritma tidak hanya bekerja menentukan popularitas konten, tetapi juga menjadi alat yang membantu pelestarian budaya Indonesia. Menurut Koentjaraningrat (2009), kebudayaan bersifat dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat serta perubahan zaman.
Menariknya, tren berkain di era digital juga mencerminkan keberagaman budaya Indonesia. Banyak pengguna media sosial mulai memperkenalkan kain khas daerah masing-masing kepada publik melalui konten sederhana namun bermakna. Anak muda dari Jawa memperlihatkan batik dan lurik, masyarakat Bali mengenalkan kebaya modern, sementara kreator dari Sumatra maupun Indonesia Timur mulai memperkenalkan ulos, songket, dan tenun khas daerah mereka. Tanpa disadari, media sosial telah menjadi ruang pertemuan budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Seseorang yang sebelumnya tidak mengenal suatu kain tradisional kini dapat memahaminya hanya melalui satu unggahan. Fenomena ini menciptakan rasa saling mengenal dan menghargai antardaerah. Dalam konteks tersebut, tren berkain dapat dikaitkan dengan nilai Persatuan Indonesia sebagaimana terkandung dalam sila ketiga Pancasila. Persatuan tidak selalu diwujudkan melalui upacara atau pidato kebangsaan, tetapi juga melalui rasa bangga terhadap budaya bangsa. Ketika generasi muda bersama-sama memperkenalkan budaya lokal mereka di ruang digital, mereka sebenarnya sedang membangun identitas nasional secara kolektif. Hal ini sejalan dengan pemikiran Soekarno yang menekankan bahwa persatuan bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman budaya masyarakatnya.
Namun, di balik populernya tren berkain, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Budaya jangan sampai hanya dipandang sebagai estetika visual atau sekadar alat mengikuti tren. Tidak sedikit orang mengenakan kain tradisional atau kebaya hanya demi kebutuhan konten tanpa memahami makna budaya yang terkandung di dalamnya. Padahal setiap motif batik, bentuk tenun, maupun cara penggunaan kebaya memiliki nilai sejarah dan filosofi tertentu yang perlu dihargai. Oleh karena itu, generasi muda tidak hanya perlu mempopulerkan budaya lokal, tetapi juga memahami nilai yang ada di baliknya. Konten kreatif mengenai budaya seharusnya tidak berhenti pada visual yang menarik, melainkan juga menjadi sarana edukasi dan pengenalan budaya kepada masyarakat luas. Dalam hal ini, media sosial memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran budaya apabila digunakan secara bijak. Liliweri (2014) menyatakan bahwa komunikasi budaya yang baik dapat memperkuat pemahaman dan penghargaan masyarakat terhadap keberagaman budaya.
Penutup
Pada akhirnya, tren berkain dan berkebaya di era digital menunjukkan bahwa budaya Indonesia masih memiliki tempat di tengah kehidupan generasi muda. Di balik layar media sosial dan sistem algoritma yang terus bergerak, terdapat semangat untuk kembali mengenal dan memperkenalkan identitas budaya bangsa. Fenomena ini membuktikan bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi apabila masyarakat mampu menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman. Berkain dalam algoritma bukan sekadar tren sesaat, tetapi juga bentuk nyata bagaimana budaya dapat menjadi penghubung antarmasyarakat Indonesia di tengah keberagaman. Melalui batik, kebaya, tenun, endek, songket, dan berbagai warisan budaya lainnya, generasi muda sedang menunjukkan bahwa persatuan bangsa dapat dibangun melalui cara-cara sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, sudah seharusnya generasi muda tidak malu untuk mulai berkain dan berkebaya dalam aktivitas sehari-hari sebagai bentuk kebanggaan terhadap identitas budaya Indonesia. Di tengah dunia digital yang terus bergerak cepat, budaya lokal tidak boleh hanya menjadi tontonan di media sosial, tetapi juga perlu terus hidup dan digunakan dalam kehidupan nyata. Sejalan dengan hal tersebut, UNESCO menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sarana membangun identitas dan solidaritas sosial masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta. https://www.academia.edu/102123802/BUKU_PENGANTAR_ANTROPOLOGI?source=swp_share
Liliweri, A. (2014). Pengantar studi kebudayaan. Nusa Media. https://books.google.co.id/books?id=TDRgEAAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=sh/x/srp/wr/m1/0&kgs=e1ae6b4797c41fca&utm_source=sh/x/srp/wr/m1/0#v=onepage&q&f=false
Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016, 2017.
UNESCO. (2003). Convention for the safeguarding of the intangible cultural heritage. UNESCO. https://ich.unesco.org/en/convention
Jawapos Radar Jogja. (2024). Tren kebaya encim: Busana tradisional bangkit menjadi daily outfit bagi anak muda. Radar Jogja. https://radarjogja.jawapos.com/lifestyle/2511100044/tren-kebaya-encim-busana-tradisional-bangkit-menjadi-daily-outfit-bagi-anak-muda
Soekarno. (1964). Di bawah bendera revolusi (Jilid 1). Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi. https://luk.staff.ugm.ac.id/DBR/Soekarno-DibawahBenderaRevolusi1.pdf