
Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya digital dan kecerdasan buatan, menempatkan Generasi Z pada posisi penting sebagai penentu arah bangsa. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2025 mencapai 229,4 juta jiwa atau sekitar 80,66% dari total populasi. Tingginya penetrasi internet ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi ruang sosial utama, terutama bagi Generasi Z sebagai kelompok yang paling aktif mengakses, memproduksi, dan menyebarkan informasi. Namun, derasnya arus globalisasi informasi membawa tantangan berupa melemahnya identitas nasional dan nilai kebangsaan ( Rahmah, et al., 2026). Sebagai generasi digital native, Gen Z sering terjebak dalam disrupsi informasi yang mengancam persatuan, misalnya tawuran pelajar akibat konflik di media sosial atau penyebaran konten negatif yang menurunkan rasa nasionalisme (Setiawan, Cempaka, & Reksoprodjo, 2024).
Pancasila sebagai ideologi negara tidak boleh hanya dipandang sebagai simbol sejarah, tetapi harus menjadi paradigma pengembangan IPTEK. Jika ilmu pengetahuan dilepaskan dari nilai moral dan agama, teknologi berisiko menjadi dehumanis dan destruktif. Karena itu, Pancasila berfungsi sebagai kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologis agar kemajuan material tetap selaras dengan karakter bangsa yang berkeadilan sosial ( Alhudawi, Susilawati, & Pratiwi, 2023). Tanpa landasan etis ini, ruang digital akan terus dipenuhi polarisasi opini dan lemahnya verifikasi informasi (Teresa, Wibawa, Suherman, Kauwer, & Tiatri, 2025).
Sebagai solusi, literasi digital berbasis Pancasila perlu diterapkan untuk menangkal hoaks dan radikalisme digital. Keterampilan teknis dalam menggunakan gawai harus disertai internalisasi nilai Kemanusiaan dan Persatuan sebagai filter ideologis dalam menyaring informasi (Pradana & Sholikin, 2025). Hal ini sejalan dengan pandangan Aprianus P. Taboen yang menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan pengecekan fakta sebelum merespons isu publik (Taboen, 2025).
Dengan mengintegrasikan etika Pancasila ke dalam perilaku bermedia, Gen Z tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga kedaulatan ideologi bangsa. Transformasi ini merupakan langkah penting untuk melahirkan generasi berdaulat dan bermartabat menuju visi Indonesia Emas 2045 ( Rahmah, et al., 2026). Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah dalam proposal ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana aktualisasi nilai-nilai Pancasila oleh Generasi Z dalam menghadapi tantangan era digital?
b. Bagaimana peran literasi digital berbasis Pancasila dalam mengatasi disrupsi informasi seperti hoaks, radikalisme, digital, dan penurunan nasionalisme?
c. Bagaimana pengaruh perkembangan IPTEK, khususnya digital dan kecerdasan buatan, terhadap nilai kebangsaan Generasi Z?
Analisis dan Opini
Pancasila: Perisai Etis Gen Z di Era Digital.
Pancasila memiliki peran penting sebagai landasan dalam pengembangan IPTEK, terutama di era digital yang didominasi Generasi Z. Kemajuan teknologi memang membuka akses informasi luas, tetapi juga membawa risiko seperti hoaks yang masuknya nilai asing yang tidak sejalan dengan jati diri bangsa. Oleh karena itu, Pancasila berfungsi sebagai filter etis agar IPTEK tetap berorientasi pada kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Generasi Z pun memiliki peluan besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut melalui literasi digital dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga Pancasila menjadi kompas dalam menjaga arah perkembangan teknologi.
Melawan Senjata Tak Terlihat: Saat Ribuan Hoaks Menargetkan Nalar Bangsa.
Data dari berita RRI Kupang (2025) menyebutkan ada 2.300 hoaks setiap bulan yang muncul di ruang digital. Berita bohong tersebut adalah ancaman nyata karena mampu merusak cara pikir dan mengadu domba sesama warga negara. Media sosial sering kali dipakai untuk menyebarkan kebencian yang sangat bertentangan dengan nilai Pancasila. Jika semua pihak abai, hoaks akan perlahan menghancurkan persatuan bangsa dari dalam. Oleh karena itu, menjaga kebersihan ruang digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban demi melindungi kedaulatan bangsa dari informasi yang menyesatkan.
Mengemas Jati Diri Nasional melalui Inovasi Konten Kreatif.
Di tengah derasnya arus konten digital yang didominasi budaya asing, konten kreatif bermuatan kebangsaan justru memiliki potensi besar untuk menjadi media penyebaran nilai-nilai luhur bangsa secara organik dan tidak menggurui. Generasi Z, sebagai kelompok yang paling aktif memproduksi dan mengonsumsi konten digital, sebenarnya berada di posisi strategis untuk mengemas isu-isu kebangsaan menjadi sesuatu yang relevan, menarik, dan mudah dicerna oleh masyarakat luas. Tantangannya bukan soal kurangnya kreativitas, melainkan masih minimnya kesadaran bahwa konten yang dibuat bisa sekaligus menjadi instrumen penguatan identitas nasional. Bila pemanfaatan konten kreatif kebangsaan ini didukung dengan ekosistem yang tepat, seperti kebijakan yang mendorong literasi digital berbasis nilai lokal, maka budaya digital Indonesia tidak hanya ramai secara kuantitas, tetapi juga bermakna secara kualitas. Pada akhirnya, konten kreatif kebangsaan bukan soal membungkus nasionalisme dengan kemasan kekinian, melainkan tentang membuktikan bahwa identitas bangsa tetap hidup dan relevan di ruang digital.
Saring Sebelum Sharing: Senjata Baru Bela Negara di Ruang Digital.
Gen Z hidup di tengah banjir informasi yang isinya bukan cuma data, tapi juga buzzer, hoaks, dan media yang doyan main headline nyeleneh demi klik dan engagement. Banyak informasi sengaja dipelintir lewat judul clickbait, potongan konteks, sampai cherry-picking data untuk menggiring opini publik. Kalau ditelan mentah, yang rusak bukan cuma logika, tapi juga persatuan. Di sinilah nilai Pancasila jadi rem sekaligus kompas: berpikir kritis, adil, dan tidak mudah terprovokasi. Gen Z harus biasakan cek sumber, bandingkan informasi, dan jangan asal sebar. Sederhana, tapi krusial: saring sebelum sharing. Di ruang digital yang bising, cek fakta adalah bentuk paling nyata bela negara.
Solusi dan Rekomendasi
Generasi Z perlu mengambil peran aktif dalam memproduksi konten edukatif yang berbasis nilai-nilai Pancasila sebagai tandingan nyata terhadap arus hoaks dan propaganda digital yang semakin masif. Upaya ini tidak cukup hanya dengan konsumsi informasi, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata di ruang digital.
Untuk menopang peran tersebut, literasi digital perlu diperkuat agar Generasi Z mampu menyaring informasi secara kritis sebelum menyebarkannya. Kemampuan ini menjadi fondasi agar produksi konten yang dilakukan tidak justru memperkeruh situasi, melainkan benar-benar berkontribusi pada penguatan kedaulatan nilai Pancasila di era digital.