Debat di X vs Pamer di TikTok: Menguji Identitas Nasional di Arus Globalisasi

Oleh: Muthia Syafrifah & Shaqilla Zanuartha Wardhani (Universitas Brawijaya)

Dari Indonesia Raya ke Algoritma FYP: Wajah Baru Nasionalisme Kita
Identitas nasional pernah tampak begitu sakral dan kaku. Kami mengingatkannya dengan mengikuti upacara bendera setiap Senin pagi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan tegas, atau menghafal bagian-bagian Pancasila untuk mempertahankan nilai rapor yang aman. Namun, arus globalisasi dan revolusi digital telah mengubah keadaan. Nasionalisme saat ini bukan hanya masalah resmi tentang kenegaraan; ia telah berubah, dibungkus, dan disebarkan ulang melalui layar ponsel pintar kita. Sekarang, identitas nasional dapat dilihat dalam tagar yang viral, tren tarian modern yang menggabungkan kain batik, dan perdebatan sengit di kolom komentar.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kulturalisme kita telah memasuki arena baru di ruang digital. Dalam teorinya tentang The Power of Identity, sosiolog Manuel Castells (2010) menyatakan bahwa identitas di era informasi dibangun secara kolektif oleh masyarakat melalui jaringan komunikasi digital, bukannya secara statis yang diwariskan dari atas ke bawah (top-down). Ketika identitas nasional masuk ke dalam pusaran media sosial, kita dihadapkan pada dua platform raksasa dengan karakteristik yang bertolak belakang: TikTok, yang memanjakan mata dengan visualisasi estetik, dan X, yang sebelumnya adalah Twitter, yang penuh dengan dialektika teks. Di sinilah krisis nasionalisme kita dimulai, ketika perbedaan antara mencintai negara kita dan hanya mengikuti mode menjadi sangat samar.

Budaya Pamer dan Belanja: Ketika FYP Menjadi Cermin Identitas
Kita harus menyelidiki fenomena yang terjadi di TikTok. Halaman For You Page (FYP) platform ini sering dianggap sebagai representasi identitas nasional kontemporer, yang menarik. FYP dapat menyatukan jutaan orang dalam satu gelombang tren yang sama, mulai dari makanan lokal yang tiba-tiba menjadi viral hingga tren busana tradisional yang dikemas modern, melalui algoritma yang sangat personal. Namun, ada paradoks yang signifikan yang terjadi di sini. Identitas yang diciptakan oleh TikTok seringkali terkait dengan budaya konsumtif. Dengan fitur belanja langsung di aplikasi, batas antara dorongan untuk berbelanja dan apresiasi budaya menjadi kabur.
Apakah kita merayakan kebangsaan kita dengan membeli batik kontemporer yang populer di toko TikTok atau hanya menjadi korban FOMO (Fear of Missing Out)? Menurut data yang dikumpulkan oleh laporan We Are Social (2024), Indonesia berada di antara negara-negara dengan adopsi e-commerce terbesar di dunia. Di satu sisi, algoritma FYP telah menciptakan rasa “bangga buatan Indonesia” dengan membawa kelas produk lokal dan UMKM ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, identitas nasional yang diciptakan oleh TikTok, di sisi lain, cenderung lebih halus dan berpusat pada “budaya pamer”, atau fleksi. Kadang-kadang, identitas kita sebagai bangsa yang ramah dan bergotong royong direduksi hanya menjadi pertunjukan gaya hidup digital yang sangat dikonsumsi.

X yang Gaduh dan TikTok yang Megah: Dua Kutub Ekspresi Digital
Di X dan TikTok, perbedaan psikologis netizen menyebabkan dualisme dalam pandangan orang Indonesia. Ruang dengan banyak teks di mana ironi, sarkasme, dan diskusi politik menjadi kebiasaan. Mereka yang tergabung dalam komunitas netizen X memiliki kecenderungan yang skeptis, kritis, dan menyukai melakukan dekonstruksi terhadap kisah-kisah yang signifikan. TikTok, di sisi lain, adalah panggung visual yang indah dengan banyak warna dan optimisme visual yang terkadang terlalu sempurna. TikTok menunjukkan identitas nasional melalui keindahan alam, keragaman tarian, dan kebanggaan kosmetik, sedangkan X menunjukkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah atau masalah sosial.
Polarisasi ekspresi muncul dari perbedaan karakter ini. Nasionalisme kritis di platform X sering ditunjukkan dengan membongkar kebobrokan sistem demi perbaikan. Namun, di TikTok, nasionalisme dipromosikan melalui hal-hal yang menyenangkan dan menghibur. Menurut Nasrullah (2015), fenomena ini sejalan dengan gagasan bahwa media sosial membentuk komunitas virtual yang memiliki kebiasaan dan cara berkomunikasi tertentu yang menerjemahkan realitas budaya.

Peluang Dialektika di X dan Tantangan Komodifikasi di TikTok
Adanya peta tantangan dan peluang yang jelas terlihat dari dinamika kedua platform tersebut. Platform X menawarkan kesempatan emas untuk meningkatkan masyarakat sipil dan pendewasaan berpikir kritis. Melalui kekuatan topik trending, masalah kecil di X dapat menjadi perhatian nasional dalam hitungan jam. Karena setiap warga negara memiliki hak suara yang sama untuk berpartisipasi dalam debat, kritik, dan pengendalian proses demokrasi, ruang ini memungkinkan pertumbuhan identitas nasional yang lebih inklusif. Identitas nasional orang X dibentuk melalui persetujuan sosial yang dinamis, bukan hanya indoktrinasi yang konsisten.
TikTok, di sisi lain, menghadapi masalah besar dengan komodifikasi budaya dan pendangkalan makna. Ketika identitas bangsa digambarkan dalam video 15 detik, ada kemungkinan besar prinsip-prinsip utama bangsa akan disederhanakan. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi TikTok adalah mencegah budaya Indonesia menjadi sekadar barang dagangan yang menarik di mata dunia sementara generasi mudanya kehilangan pemahaman yang mendalam tentang filosofi yang mendasari budaya tersebut (Suryani, 2023). Identitas nasional kita terancam hilang jika kita hanya bergantung pada estetika FYP dan kebiasaan belanja impulsif. Identitas ini mudah terpengaruh oleh tren global dan mudah hilang ketika algoritma aplikasi berubah.

Merajut Kembali Merah Putih di Ruang Virtual
Pada akhirnya, tidak dapat disangkal bahwa jagat digital menunjukkan wajah baru negara kita. Dalam memikirkan kembali apa artinya menjadi “Indonesia” di era modern, baik X maupun TikTok adalah realitas sosiologis yang tidak boleh diabaikan. Untuk mempertahankan moralitas nasional dan mengawasi keadilan sosial, kita membutuhkan ketajaman berpikir dan keberanian berdialektika seperti yang ada di X. Pada saat yang sama, kita juga membutuhkan kegembiraan, kreativitas, dan kemampuan visual TikTok untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita kepada dunia dengan cara yang relevan bagi generasi Z dan Alpha.
Untuk menjadi konsumen digital yang bijak, tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi mempertahankan tradisi nasional. Identitas nasional Indonesia tidak boleh berakhir sekadar sebagai barang belanja di keranjang kuning TikTok atau menjadi amarah tanpa solusi di linimasa X. Dengan menyelaraskan daya kritis di platform X dengan kreativitas estetik di TikTok, kita dapat berharap identitas nasional Indonesia di masa depan akan berkembang menjadi identitas yang kokoh dan memikat di mata dunia.

Daftar Rujukan
Manuel Castells. (2010). The Power of Identity (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Rulli Nasrullah. (2015). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
We Are Social & Meltwater. (2024). Digital 2024: Indonesia. Diakses dari We Are Social Indonesia Report
Marshall McLuhan. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. McGraw-Hill.
Benedict Anderson. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (Revised Edition). Verso.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *