Malang – Tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) melalui Pusat Ekonomi, Humaniora, dan Pariwisata (PEHP) LPPM UM menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Pelestarian Alam Berbasis Ekoteologi Lamaholot” pada Sabtu (31/1/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang ilmiah untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Lamaholot dalam menjaga kelestarian alam melalui pendekatan ekoteologi.
FGD ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya krisis lingkungan akibat pembangunan yang cenderung berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, tanpa memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Dalam konteks tersebut, masyarakat Lamaholot di Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur, dinilai memiliki sistem nilai religius dan adat yang memandang alam sebagai entitas sakral yang harus dijaga secara harmonis. Perspektif ini dikenal sebagai ekoteologi Lamaholot, yang menempatkan relasi manusia, alam, leluhur, dan Yang Ilahi dalam satu kesatuan kosmos.
Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi akar krisis lingkungan dari sudut pandang budaya lokal, memahami prinsip-prinsip ekoteologi Lamaholot (koda kirin), serta merumuskan model pelestarian alam berbasis nilai spiritual dan kearifan adat sebagai alternatif pendekatan konservasi modern.
Acara menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang akademik, adat, dan praktisi, di antaranya Sebastianus Fernandez, Silvester Petara Hurit, Ama Kopong Hilarius Tokan, Bara Pattyradja, dan Longgina Novadona Bayo. Kegiatan ini dibuka oleh sambutan dari Daya Negri Wijaya selaku Kepala Pusat Ekonomi Humaniora dan Pariwisata LPPM UM. Diskusi dipandu oleh Muhammad ‘Afwan Mufti sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa masyarakat Lamaholot memandang tanah, hutan, laut, dan gunung bukan sekadar sumber daya, melainkan subjek bermartabat yang memiliki nilai spiritual. Praktik-praktik adat seperti luli (pantangan), wilayah sakral, ritual pertanian, serta penghormatan terhadap leluhur berfungsi sebagai mekanisme sosial sekaligus ekologis untuk membatasi eksploitasi alam. Pelanggaran terhadap nilai tersebut diyakini tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga kosmik.
Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa, peneliti, akademisi, dan aktivis lingkungan dari berbagai daerah ini berlangsung interaktif. Peserta turut mendiskusikan bagaimana nilai-nilai ekoteologi dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan, kebijakan publik, dan gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Melalui FGD ini, tim peneliti UM berharap lahir rekomendasi akademik dan model pelestarian alam yang kontekstual, berakar pada kearifan lokal, serta mampu menjawab tantangan krisis ekologis secara berkelanjutan. Pendekatan ekoteologi Lamaholot dinilai relevan sebagai inspirasi bagi pengembangan etika lingkungan yang humanis, spiritual, dan lintas generasi.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Negeri Malang dalam mengembangkan riset kolaboratif berbasis budaya lokal sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.