Seni, Pendidikan, dan Kekuasaan: Kebijakan Kebudayaan Catherine the Great dalam Proses Modernisasi Rusia

Amellya Putri
(Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Malang)

Pendahuluan
Catherine the Great, atau Catherine II (1729-1796), yang memerintah kekaisaran Rusia dari tahun 1762 hingga 1796 sebagai pemimpin yang penuh visi dan berani mengambil langkah besar. Ia naik ke takhta melalui kudeta yang berhasil melawan suaminya, Peter III (1728-1762), yang saat itu dianggap lemah dan tidak populer. Lahir dengan nama Sophie Fredericka Auguste di Prusia pada 2 Mei 1729, Catherine tumbuh di lingkungan Eropa yang kaya akan pemikiran baru. Sejak muda, ia belajar bahasa Prancis, sejarah, dan filsafat, yang membuatnya sangat mengagumi tokoh-tokoh Pencerahan seperti Voltaire dan Denis Diderot. Pengaruh mereka membentuk mimpinya untuk mengubah Rusia, yang saat itu sering dianggap oleh Eropa sebagai negara terpencil dan kurang maju, yang kemudian menjadi kekuatan besar yang setara dengan negara-negara Barat.
Catherine II bukan hanya pemimpin politik yang tangguh, tetapi juga pendukung kebudayaan yang kuat. Selama 34 tahun memimpin Rusia, ia berhasil memperluas wilayah kekaisaran melalui peperangan melawan Turki (Kekaisaran Ottoman) dan Polandia, sambil melakukan berbagai perubahan. Namun, di samping keberhasilan militer dan administrasi, kebijakan budayanya menjadi senjata utama untuk menampilkan citra Rusia sebagai negara maju dan beradab. Ia menggunakan seni dan pendidikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu, karena keduanya mampu menyentuh perasaan rakyat, membentuk pemikiran kaum muda, serta mengukuhkan statusnya sebagai penguasa yang bijaksana. Dalam sistem pemerintahan Rusia yang mengutamakan kekuasaan absolut raja (kaisar/tsar), Catherine II memanfaatkan seni dan pendidikan untuk mendorong kemajuan tanpa mengurangi kewenangannya. Esai ini menjelaskan bagaimana seni berperan dalam menunjukkan perkembangan Rusia ke mata dunia, pendidikan mempersiapkan generasi muda yang patuh pada pemerintah, dan keduanya berkolaborasi mempercepat proses pembaruan bangsa.

Peran Deni dalam Kebijakan Kebudayaan
Catherine II memandang seni bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana propaganda ampuh untuk mengubah cara pandang Eropa tentang Rusia. Di awal pemerintahannya, para pemikir Barat sering melabeli Rusia sebagai negeri barbar. Untuk melawan stigma ini, Catherine II mulai mengumpulkan karya seni besar-besaran sejak 1764, dimulai dengan pembelian koleksi seni pertama yang kelak menjadi cikal bakal Museum Hermitage di St. Petersburg. Selama tiga dekade berkuasa, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 40.000 benda seni, termasuk ribuan lukisan dari maestro seperti Rembrandt dan Rubens, serta koleksi permata ukir kuno, patung, dan benda hias mewah dari Eropa Barat. Koleksi ini memadukan unsur tradisional Rusia dengan gaya neoklasik Eropa yang sedang populer, menciptakan citra budaya baru yang menunjukkan kemajuan dan kebudayaan Rusia.
Selain memperkaya koleksi pribadi, Catherine II juga memperkuat institusi seni di negeri Rusia ini. Ia meningkatkan peran Akademi Seni Imperial, yang didirikan oleh saudarinya Elizabeth, dengan menaikkan dana operasional dan mengundang seniman Eropa untuk mengajar. Catherine II secara pribadi memesan karya-karya istimewa, contohnya Buch Chalice tahun 1790 yang mendekorasi emas, berlian, dan cameo kuno, serta set porselen Orlov yang mewah untuk keperluan upacara istana dan gereja. Dukungan terhadap seni ini berhasil menarik banyak seniman asing ke Rusia, memperkuat pengaruh budaya Eropa, dan memposisikan Catherine II sebagai “Minerva Rusia”, lambang dewi kebijaksanaan dalam mitologi Romawi.
Relasi Catherine II dengan para filsuf Pencerahan turut memperluas peran seni sebagai alat diplomasi budaya. Melalui korespondensi panjang dengan Voltaire dan pembelian koleksi buku milik Denis Diderot, ia menyebarkan promosi seni Rusia di Eropa sekaligus mendatangkan gagasan baru ke Rusia. Hasilnya, dunia teater, musik, dan sastra Rusia maju pesat, dengan munculnya karya-karya drama orisinal dan perkembangan orkestra istana.

Pendidikan sebagai Sarana Modernisasi Rusia
Pendidikan memegang peranan utama dalam rencana pembaruan Catherine II, karena ia yakin bahwa warga negara yang berilmu akan menjadi fondasi utama kekuatan kekuasaan yang tangguh dan bertahan lama. Tonggak penting pertamanya adalah pendirian Institut Smolny pada tahun 1764, sekolah pertama di Rusia yang secara khusus diperuntukkan bagi gadis bangsawan dan warga kota kelas menengah. Institut ini bukan hanya simbol kemajuan sosial, tetapi juga mengajarkan mata pelajaran seperti bahasa Prancis, Jerman, musik, dansa, serta keanggotaan rumah tangga yang berguna. Tujuannya sangat jelas yaitu membentuk wanita berbudaya yang mampu menopang modernisasi keluarga, masyarakat, bahkan diplomasi melalui ikatan pernikahan antar kaum bangsawan Eropa.
Reformasi Catherine II melanjutkan dengan melakukan perubahan besar pada Korps Kadet tahun 1766, sekolah militer kalangan bangsawan muda. Ia menambahkan mata pelajaran sipil krusial seperti filsafat, ilmu alam, etika moral, dan hukum internasional ke dalam kurikulum yang tadinya hanya fokus pada urusan militer. Reformasi ini bertujuan untuk menciptakan kekuatan yang tidak hanya mahir membangun, tetapi juga memahami pemikiran Eropa modern demi mendukung tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Puncak upaya pendidikannya adalah Statuta Pendidikan Nasional tahun 1786, yang dipimpin oleh Pyotr Zavadovsky selaku Komisioner Pendidikan. Statuta ini memperkenalkan sistem sekolah dua tingkat yang gratis bagi anak-anak non-budak di seluruh wilayah Rusia, lengkap dengan materi pelajaran sekuler yang diterjemahkan langsung dari buku teks terbaik Eropa seperti karya John Locke dan Jean-Jacques Rousseau. Meskipun akses pendidikan masih terbatas bagi petani yang menjadi budak, yang merupakan mayoritas penduduk Rusia pada saat itu, reformasi Catherine II tetap berhasil mendidik sekitar 62.000 siswa hingga akhir masa pemerintahannya. Angka ini menciptakan kelompok elit baru yang loyal, terampil, dan berorientasi Eropa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan, administrasi pemerintahan yang lebih modern, serta militer yang lebih profesional. Pendidikan sekuler ini juga mengurangi pengaruh Gereja Ortodoks yang kuat, memungkinkan ide-ide Pencerahan masuk ke Rusia tanpa konflik ideologis besar.

Penutup
Kebijakan kebudayaan Catherine II mengintegrasikan seni dan pendidikan sebagai alat kekuasaan efektif untuk modernisasi Rusia. Seni membangun citra megah di Eropa melalui Hermitage dan patronase akademi, sementara pendidikan menciptakan elit loyal melalui Smolny dan Statuta 1786 yang mendukung pemerintahan. Meskipun reformasi ini pada akhirnya memperkuat sistem otokrasi daripada menciptakan demokrasi sejati, seperti yang terlihat dari kegagalan Nakaz 1767 untuk menghasilkan kode hukum baru akibat resistensi bangsawan dan warisannya tetap tak tertandingi.
Era Catherine menjadi Zaman Keemasan Pencerahan Rusia, di mana seni Hermitage terus menjadi simbol prestise nasional hingga hari ini, dan sistem pendidikannya menjadi dasar perkembangan intelektual Rusia abad ke-19. Pendekatan “despotisme tercerahkan” ini membuktikan bahwa kekuasaan absolut bisa menghasilkan kemajuan budaya yang nyata, meski dengan batasan sosialnya sendiri.

Daftar Rujukan
Madariaga, I. (1981). Russia in the Age of Catherine the Great. New Haven, Yale University Press.
Kirin, A. (2014). Passion of the Empress: Catherine the Great’s Art Patronage. Washington, D.C., Hillwood Estate Museum.
Paul, K. (2023). Russian Empress Catherine the Great and Her Women Artists. London, The Art Newspaper.
Liana, M. (2023). Reforms of Catherine the Great. Canterbury, World History Encyclopaedia.
Kevin. (2023). Catherine the Great Accomplishments. New York, Have Fun with History.
Daniele, T, R. (2023). Enlightened Education at the Russian Court. Paris, Open Edition Books.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *